SANTRI DAN DUNIA BISNIS

Mei 10, 2009

“ The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience”

Salah satu aspek kehidupan Nabi Muhammad SAW yang kurang mendapat perhatian serius baik dari kalangan umum maupun dar122408_business_setting_table_at_restaurant1i sebagian pesantren, adalah kepemimpinan beliau di bidang bisnis dan entrepreneurship. Muhammad SAW lebih di kenal sebagai seorang Rasul, Pemimipin masyarakat atau “Negara” dan pemimpin militer. Padahal, sebagian besar kehidupan beliau sebelum menjadi utusan Allah SWT ( Rasulullah ) adalah sebagai pengusaha. Muhaammad SAW telah memulai merintis karir daganganya ketika berumur 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu ( beliau berusia 37 tahun ). Dengan demikian Muhammad SAW telah berprofesi sebagai pedagang selama kurang lebih 25 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun.

Muhammad SAW merupakan figure yang tepat dijadikan sebagai teladan dalam bisnis dan perilaku ekonomi yang baik. Beliau tidak hanya memberikan tuntunan dan pengarahan tentang bagaimana kegiatan ekonomi dilaksanakan, tetapi beliau mengalami sendiri menjadi seorang pengelola bisnis atau wirausaha.

Kewirausahaan (entrepreneurship ) tidak terjadi begitu saja tetapi hasil dari suatu proses yang panjang dan dimuali sejak beliau masih kecil. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Collin dan Moores ( 1964 ) dan Zaleznik ( 1976 ) yang mengatakan berkesimpulan bahwa “The act of entrepreneurship is an act patterned after modes of coping with early childhood experience.” Pendapat ini diamini oleh kebanyakan guru leadership yang kebanyakan berpendapat bahwa apa yang terjadi pada tahun – tahun pertama kehidupan kita akan membuat perbedaan yang berarti dalam kehidupan berikutnya.

Dunia pesantren sampai saat ini masih menganggap “BISNIS” adalah sesuatu yang tabu dan kurang atau bahkan tidak layak untuk di terapkan di kehidupan para santrinya, entah kenapa harus terjadi hal demikian, apakah benar semua pesantren ingin semua santrinya jadi “kyai”. Masihkah mereka peduli dengan keadaan negara kita yang system ekonominya masih saja di jajah oleh orang orang barat, sementara Indonesia saat ini membutuhkan ekonom ekonom muslim yang kuat dan tangguh dan kompeten dibidangnya, agar perekonomian negri ini lebih baik. Pesantren seharusnya bisa menjadi salah satu kendaraan sekaligus sebagai rumah di mana nilai – nilai islam yang sudah di teladankan oleh Rasulullah harus di tegakkan dan dilaksanakan tak terkecuali ajaran dan tunutunnan beliau dalam dunia bisnis. Benar memang pesantren sudah mengajarkan fiqih yang didalamnya ada tuntunan bagaimana melakukan jual beli yang sah, dan sebaginya yang terkait dengan dunia bisnis. Tapi sekali lagi, agaknya pesantren masi ragu untuk melibatkan santri – santrinya terjun langsung ke dalam dunia bisnis. Apa karna minimnya niali loyalitas dan kejujuran santri dalam kehidupan sehari – harinya terhadap apa yang mereka lakukan. Jika demikian maka sangat sulit sekali untuk menemukan jebolan peantren yang mumpuni dalam biadang ekonomi.

Sekaranglah saatnya pesantren membuka lapangan bisnis untuk para santrinya seperti apa yang sudah di lakukan oleh pesantren Gontor, Daruttauhid Bandung dll. Tentunya dengan bimbingan dan pengawasan dari para guru yang terkait, karna memang tidak mudah untuk membentuk karakteristik ekonom yang berbekal nilai – nilai islam.

Dalam dunia bisnis, seseorang di tuntut untuk berlaku jujur dan mempunyai keteguhan dalam memegang janji, dan sifat sifat mulia lainya. Inilah yang menjadi modal awal sukses atau tidaknya seseorang dalam dunia bisnis. Rasulullah sendiri dalam melaksanakan bisnisnya beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifat – sifat mulia.

lainya. Akibatnya penduduk Makkah mengenal Muhammad SAW sebagai seorang yang terpercaya ( al – amin ). ini seakan mengajarkan kita bahwa dengan berbisnis maka kejujuran dan keteguhan dalam memegang janji serta sifat – sifat muli lainya akan terbentuk. Begitulah seharusnya salah satu cara yang paling manjur untuk membentuk karakteristik santri agar mereka mempunyai kredibiltas tinggi. Ingat…!!!, ada satu ungkapan yang dijadikan sebagi judul dari salah satu buku yang mengatakan “ AKU tidak mau KAYA tapi AKU harus KAYA” kata kata itulah yang wajib di tanamkan di hati seorang santri sebagai penerus bangsa ini. Perhatikan ungkapan ini dengan baik “ AKU tidak mau KAYA “ ini menunjukan sifat ketidak tamakan seseorang terhadap harta dan kenikmatan dunia semata, biasanya sifat ini lekat dengan orang – orang sufi. selanjutnya perhatikan lagi kata “AKU harus KAYA” kata ini mengajarkan kita bahwa santri tidak boleh miskin. Jika kedua duanya sudah melekat dalam diri para santri, maka pasti sifat dermawan dan tidak meminta – minta akan ada dalam jiwa mereka, dan jika mereka kaya maka manhaj dakwah ( metode dakwah ) tidak hanya terbatas dengan cermah sana sini ( kadang ngarep ada amplopnya ). akan tetapi, keterlibatan mereka secara langsung dengan berinfaq dan bersedekah dari hartanya sendiri yang Allah titipkan, akan menjadikan mereka teladan yang baik bagi masyarakat sebagai “ustad kaya yang dermawan”.

Posted by: saif


Mutiara Keteladanan yang Tertutupi Lumpur Keangkuhan

Maret 18, 2009

“Narrated Abu Hurairah RA : The Prophet SAW said, ‘ Allah did not send any Prophet but he shepherded sheep.’ His companions asked him.’ Did you do the same ?’ The prophet SAW replied, ‘ Yes, I used to shepherd the sheep of the Makkah for some Qirat.’ ( Shahih Al – Bukhari no. 2262 )

Dari gambaran di atas sangatlah jelas bawha bangsa dan umat ini membutuhkan suri tauladan yang layak untu ditiru dan sanggup membawa setiap insan Indonesia lebih maju dan lebih bermartabat. Indonesia membutuhkan teladan hampir dalam semua spektrum kehidupan. Anak muda dan remaja membutuhkan satu sosok yang tangguh dan bermotivasi tinggi untuk menghadapi segala kesulitan hidup dan banyak rintangan untuk berkembang. Rumah tangga membutuhkan figur suwami dan ayah teladan yang penuh perhatian terhadap istri dan anak – anaknya. Dunia usaha juga kini memerlukan contoh entrepreneur ( pebisnis ) yang bisa sukses tanpa harus bertumpu pada modal dan uang tetapi bisa bertumpu pada kompetensi dan kepercayaan ( trust ). Dunia pendidikan membutuhkan figur pendidik yang ngemong dan memperlakukan siswa sebagai organisma yang tumbuh dan perlu diperhatikan dari waktu ke waktu. Karena memang pendidikan sejatinya proses transformasi nilai dan budi pekerti bukan seedar transmisi informasi dan data belaka.
Dalam tataran sosial diperlukan seorang leader yang mampu merajut titik – titik temu dari berbagai elemen masyarakat yang berbeda dari sisi ideologi, kultur dan tradisinya; menjadi suatu tatanan masyarakat baru yang bergerak menuju peradaban baru.
Indonesia dan dunia islam saat ini sangat merindukan pemimpin politik yang memiliki visi, kompetensi dan compassionate untuk memajukan bangsanya. Banyak anak bangsa yang tidak tahu akan menjadi apa Indosnesia dalam 5 tahun atau 10 tahun yang akan datang. Banyak dari kita juga tidak tahu bagaimana setrategi pangan nasional agar bisa swasembada beras dalam 3 tahun ke depan atau bagaimana memastikan ketahanan energi ketika minyak diperkirakan akan berkurang drastis dalam 18 tahun kedepan dan gas alam akan habis dalam 60 tahun kedepan.
Indonesia merindukan suri tauladan leadership yang meyakini bahwa jabatan adalah tanggung jawab dunia akhirat dan bukan kemegahan serta peluang ( opportunity ) untuk menambah kekayaan semata dengan apapun caranya. Pemimpin yang tidak bisa tidur nyenyak karena masih banyak rakyatnya yang bergizi bukuk ( baca:kelaparan ). Pemimpin yang tidak bisa bercuti panjang karena banyak Puskesmas dalam keadaan memprihatinkan. Pemimpin yang tidak terlalu nikmat duduk dalam ruangan ber-AC sementara masih banyak rakyatnya korban longsor, lumpur dan banjir berada di tenda tenda pengungsian. Pemimpin yang tidak tega meminta kenaikan gaji dan fasilitas karena sebagian pegawai PNS gaji pokoknya tidak lebih besar dari anggaran telepon rumah seorang pejabat di tingkat kabupaten.
Teladan kepemimpinan itu seseungguhnya terdapat pada diri Rasulullah SAW karena ia adalah pemimpin yang holistic, accepted, dan proven. Holistic karena beliau adalah pemimpin yang mampu mengembangkan leadership dalam berbagai bidang termasuk diantaranya : self development, bisnis dan entrepreneurship, kehidupan rumah tangga yang harmonis, tatanan masyarakat yang akur, sistem politik yang bermartabat, sistem pendidikan yang bermoral dan mencerahkan, sisitem hukum yang berkeadilan, dan strategi pertahanan yang jitu serta memastikan keamanan dan perlindungan warga negara. Kepemimpinanya accepted karena diakui lebih dari 1,3 milyar manusia. Kepemimpinanya proven karena sudah terbukti sejak lebih dari 15 abad yang lalu hingga hari ini masih relevan diterapkan. hanya saja terkadang kita enggan mengambil mutiara hikmah dari suri tauladannya karena keangkuhan atau kebodohan diri.
tulisan ini sengaja penulis nukil dari buku best seller “MUHAMMAD SAW the SUPER LEADER SUPER MANAGER” karya Dr.M.Syafii Antonio M.Ec,dengan maksud memberikan informasi sekaligus pengetahuan kepada seluruh pembaca yang budiman. terimakasih semoga bermanfaat, salam sukse,,,,!!!