Jangan berlebihan

April 4, 2009

Manusia itu memang unik, selain tak pernah merasa cukup,manusia juga suka berlebih-lebihan dalam hidup. Misalnya dalam masalah kepemilikan harta benda, jika tetangga membeli suatu barang, maka diapun tak mau kalah. Padahal, barang yang dia beli tersebut sama sekali bukanlah yang mereka butuhkan.  Tidak hanya dalam perkara barang saja dalam hal makan dan minumpun mereka sangat boros,fenomena semacam ini tampak sangant jelas ketika menjalani ibadah puasa Ramadhan pada hari pertama….Sebelum menjelang buka puasa, mereka membeli segala jenis makanan dan minuman yang mereka lihat di pasar, seakan-akan perut mereka bisa menampung semuanya,,setelah saatnya berbuka barulah mereka sadar ternyata perut yang hanya sejengkal itu tidak mampu menampung semuanya.  Begitulah manusia mudah sekali diperdaya dan diperbudak hawa nafsunya,,maka larangan Allah untuk tidak makan dan minum berlebihanpun tak mereka indahkan.   Padahal, jelas-jelas dalam Al-A’raaf ayat 31,Allah berfirman ” HAI ANAK ADAM PAKAILAH PAKAIANMU YANG INDAH DI SETIAP MEMASUKI MESJID. MAKAN DAN MINUMLAH, DAN JANGANLAH BERLEBIHAN. SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENYUKAI ORANG-ORANG YANG BERLEBIHAN ”

Banyak alasan mengapa Allah tidak  menyukai orang-orang yang berlebihan diantaranya:

pertama, karena hidup berlebihan itu dapat menutupi pintu kesyukuran kita kepadaNya.  Pasalnya, hidup berlebihan itu bisa membuat manusia menjadi lupa diri dan lupa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dikaruniakanNya.    

Kedua, hidup berlebihan atau bermegah-megahan bisa membuat kita lalai daripada  mengingat Allah, dan ini juga bisa membuat kita menjadi tidak mengenal Allah.

Ketiga, hidup berlebihan dapat membuat kita terjebak dalam penyakit hati, seperti kikil, bakhil, sombong, iri dan dengki.  jika seorang hamba telah di kuasai oleh kelima virus ini maka dia akan mendapat siksa yang pedih.. Oleh karena itu berusahalah menahan hawa nafsu agar tidak menjadi orang yang berlebihan,,amin…. 


MENDEBUKAN TELAPAK KAKI SESAAT

April 1, 2009

Ketika Usamah buin Zaid bersiap – siap keluar di jalan Allah bersama pasukanya sesudah Rasul SAW wafat, keberangkatanya dilepas oleh khalifah pertama, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
Usamah menaiki hewan kendaraanya, sedang Abu Bakar berjalan kaki. Usamahpun berniat akan turun dari kendaraanya agar khalifahlah yang mengendarainya. Akan tetapi, As-Shiddiq berkata : ” Jangan turun! Demi Allah, aku tidak mau naik. Apalah salahnya aku jika mendebukan telapak kakiku sesaat di jalan Allah.”
Aku dan anda berhenti untuk merenungkan kalimat ini seraya bertanya – tanya : bagaimanakah pendapat anda, apakah hanya saat itu Ash-shiddiq mula – mula mendebukan telapak kakinya? Bukankah ia pernah mendebukanya, bahkan sering sekali? Bukankah dia telah mendebukan telapak kakinya di Makkah saat penolong islam sedikit, hubungan kekerabatan menegang, kenalan menjadi tidak mau kenal, dan banyak pihak merasa senang dengan penderitaan Islam?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya dalam peperangan badar, saat kematian merayap, kekafiran mendidih, dan arwah orang – orang mukmin bertebangan ke surga yang luasnya sama dengan luasnya langit dan bumi? Bukankah ia pernah mendebukan telapak kakinya di medan perang uhud, saat kedua barisan pasukan berhadapan dan banyak pedang yang patah di kepala para pahlawan, dan perang tanding mulai memuncak serta ketakutan mulai terlihat jelas?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat ia mengarungi padang sahara Jazirah Arabia menuju ke medan tabuk, sedang rasa lapar memenuhi perutnya, rasa haus mencekik lehernya, panasnya matahari yang terik terasa sampai kesemua pori pori tubuh, dan debu memenuhi kedua lubang hidungnya?
Bukankah dia pernah mendebukan telapak kakinya saat berangkat berpagi hari dan berpetang hari, menguak kegelapan cuaca pagi hari buta menuju sholat berjamaah, dan begitu pula saat menuju ke sholat jumu’ah?
Inilah yang telah dilakukan oleh Anu Bakar Ash-Shiddiq RA, lalu bagaimana dengan kita? apakah yang telah kita lakukan? bilakah kita mendebukan telapak kaki kita? bilakah kita berjihad? Dimana kita melakukan peperangan dan dimana pengorbanan kita?
“BIARKANLAH PUJIAN KEPADA AS-SHIDDIQ MENGUAK KEGELAPAN MALAM DAN BIARKANLAH SEMUA SEBUTAN DIUKIR UNTUKNYA DI URUTAN YANG TERTINGGI”

Posted by : Saiful@Ipunk
Taken from : “Shiyatul Qulub” Dr. Aidh bin Abdullah Al-Qarni


SUBUH OH SUBUH…….

April 1, 2009

Ganjaran pahala solat Subuh mengatasi keindahan dunia sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sesiapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah SWT. Kerana itu, janganlah kamu mencari jaminan Allah SWT dengan sesuatu (selain daripada solat), yang pada waktu kamu mendapatkannya, lebih-lebih lagi ditakuti kamu tergelincir ke dalam api neraka.” (Hadis riwayat Muslim)
Muhammad Abdur Rauf al-Munawi dalam kitabnya at-Ta’arif menegaskan, as-Subhu atau as-Sabah adalah permulaan siang hari, iaitu ketika ufuk berwarna merah jingga di langit tertutup oleh tabir matahari. Adapun solat Subuh ibadat yang dilaksanakan ketika fajar siddiq dan berakhir pada waktu matahari terbit. Solat Subuh memiliki banyak daya tarikan kerana kedudukannya dalam Islam dan nilainya yang tinggi dalam syariat. Banyak hadis mendorong untuk melaksanakan solat Subuh serta menyanjung mereka yang menjaga dan mengerjakannya.
Rasulullah SAW mengetahui waktu Subuh adalah waktu yang sangat sulit dan payah untuk bangun dari tidur. Seorang Muslim bila dibiarkan begitu saja (tertidur), akan memilih untuk merehatkan dirinya sampai terjaga hingga terbit matahari dan meninggalkan solat Subuh, atau ‘Subuh gajah’, Yaitu dikerjakan solat Subuh tidak pada waktunya yang betul.
Rasulullah SAW mengkhususkan solat subuh dengan beberapa keistimewaan tunggal dan sifat tertentu yang tidak ada pada solat lain. Banyak keutamaan dan kelebihan yang didapati di waktu subuh. Salah satu keutamaannya adalah Rasulullah SAW mendoakan umatnya yang bergegas dalam melaksanakan solat Subuh, sebagaimana disebutkan dalam hadis: “Ya Allah, berkatilah umatku selama mereka suka bangun subuh (iaitu mengerjakannya).” (Hadis riwayat Termizi, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah)
Jika Rasulullah SAW yang berdoa, maka tidak ada hijab di antara Baginda dengan Allah SWT karena Baginda sendiri adalah orang yang secara jasadiyah paling dekat dengan Allah SWT. Waktu Subuh adalah waktu yang paling baik untuk mendapatkan rahmat dan keredaan Allah SWT. Allah SWT berfirman maksudnya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keredaan-Nya, dan janganlah kedua matamu berpaling daripada mereka kerana mengharapkan perhiasan duniawi, dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya sudah Kami lalaikan daripada mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas.” (Surah al-Kahfi, ayat 28)
Keutamaan solat Subuh diberikan ganjaran pahala melebihi keindahan dunia dan seisinya, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam at-Termizi: “Dari Aisyah telah bersabda Rasulullah SAW, dua rakaat solat Fajar pahalanya lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Begitulah keistimewaan solat Subuh. Apakah yang menghalang kita untuk menyingkap selimut dan mengakhiri tidur untuk melakukan solat Subuh? Bukankah solat Subuh menjadi bahagian yang begitu besar kemuliaannya dibandingkan dunia dan seisinya?
Diriwayatkan Muslim daripada Usman bin Affan berkata, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Barang siapa yang solat Isyak berjemaah maka seolah-olah dia telah solat setengah malam, barang siapa solat Subuh berjemaah, maka seolah-olah dia telah melaksanakan solat malam satu malam penuh.” (Hadis riwayat Muslim).
Solat Subuh adalah sumber daripada segala cahaya di hari kiamat. Di hari itu, semua sumber cahaya di dunia akan padam. Matahari akan digulung, ibadat yang akan menerangi pelakunya. Diriwayatkan daripada Abu Musa al-Asyaari, dia berkata Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Barang siapa yang solat dua waktu yang dingin, maka akan masuk syurga.” (Hadis riwayat Bukhari).
Dua waktu yang dingin itu adalah solat Subuh dan Asar. Mereka yang menjaga solat Subuh dan Asar dijanjikan kelak di syurga akan melihat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, ketika melihat bulan purnama. Baginda berkata, “Sungguh kamu akan melihat Rabb (Allah), sebagaimana kamu melihat bulan yang tidak terhalang dalam memandangnya. Apabila kamu mampu, janganlah kamu menyerah dalam melakukan solat sebelum terbit matahari dan solat sebelum terbenam matahari. Maka lakukanlah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW memberi janji, apabila solat Subuh dikerjakan, maka Allah akan melindungi siapa saja yang mengerjakannya seharian penuh. Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Barang siapa yang menunaikan solat Subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka janganlah coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa yang membunuh orang yang menunaikan solat Subuh, Allah SWT akan menuntutnya, sehingga Allah SWT akan membenamkan mukanya ke dalam neraka.” (Hadis riwayat Muslim, at-Termizi dan Ibn Majah)
Semoga kita tetap menjaga dan memelihara solat Subuh seperti dijanjikan Allah. Bergegaslah bangun tidur apabila terdengar laungan azan berkumandang untuk segera mengerjakan solat Subuh.
Semoga bermanfa’at…..


Bersyukur Dalam Kesempitan

Maret 18, 2009

”Dan, hanya sedikit di antara hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS Saba’ [34]: 13).
Dengan wajah sedih, seorang laki-laki datang kepada seorang ulama. Dia mengeluhkan kefakiran dan berbagai kemalangan hidup yang dialaminya. Ulama tersebut berkata, ”Apa kamu mau penglihatanmu diambil dan diganti dengan seribu dinar?” Orang itu berkata, ”Tidak.”
Sang ulama bertanya lagi, ”Apa kamu senang menjadi orang bisu dan diberi seribu dinar?” Orang tersebut menjawab, ”Tidak.” Sang ulama yang dikenal saleh itu kembali bertanya, ”Apa kamu mau dua tangan dan dua kakimu buntung, lalu kamu mendapatkan dua puluh ribu dinar?” Orang tersebut lagi-lagi menjawab, ”Tidak.”
”Apa kamu mau jadi orang gila dan dikasih sepuluh ribu dinar?” tanya sang ulama lagi. Dan, sekali lagi orang tersebut mengatakan, ”Tidak.” Maka, sang ulama bijak itu pun berkata, ”Terus, apa kamu ini tidak malu kepada Tuhanmu yang telah memberimu harta senilai puluhan ribu dinar?” Kisah ini berbicara, betapa banyak orang salah persepsi, dikiranya nikmat hanya sebatas harta dan materi semata. Mereka tidak menyadari bahwa nikmat Allah meliputi segala hal: keimanan, kesehatan, keluarga, tempat tinggal, kepandaian, teman yang baik, pemimpin yang adil, tumbuh-tumbuhan, makanan, dan sebagainya. Itu semua adalah nikmat yang harus disyukuri, baik kita memintanya maupun tidak.
Untuk menjadi orang bersyukur, setidaknya ada tiga syarat yang harus dipenuhi. Pertama, mengetahui apa itu nikmat dan meyakini sepenuhnya bahwa nikmat tersebut adalah pemberian Allah. Kedua, bahagia dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita. Dan, ketiga, melakukan hal-hal yang disukai oleh Pemberi Nikmat, baik melalui lisan dengan ucapan ”Alhamdulillah” maupun melalui perbuatan-perbuatan yang disukai-Nya.
Bersyukur dalam Kesempitan
Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
Republika