Sidang pertamaku dan Seporsi spaghetti bolognaise

June 17, 2009

Senin 15 Juni 2009, adalah hari yang cukup membuat hati ku tidak menentu antara takut dan tidak. Dua hari sebelumnya, aku sedang asyik facebookan tak lama kemudian telpon di meja kerjaku berdering, akupun segera menyambutnya, ” hallo….” dengan nada santun ibu Rizna ( nama samaran ) menyapaku, ” hallo…  ada yang bisa kami bantu” tanyaku dengan nada empuk,  “pak saiful, saya minta bantuan pak saiful untuk jadi saksi saya di pengadilan senin besoq, pak saiful hari senin ada acara gak ?” tanya ibu. sontak aku sangat terkejut bisa – bisanya namaku ada dalam daftar saksi yang bu rizna mau, setelah berusaha menolak untuk kesekian kalinya, ahirnya dengan berat hati aku meng-iya-kan permintaan beliau untuk di jadikan saksi terkait dengan tuduhan dari mantan suaminya sebagai ibu yang acap kali melakukan tindak kekerasan kepada anak bungsunya yang masih duduk di bangku kelas 6 SD yang ketika itu ada dalam bimbingan les private ku. Ibu Rizna adalah salah satu clien dari Kelas Les Private yang saya lakoni, sudah hampir dua tahun aku di percaya untuk memberikan Les private kepada anak bungsunya, hal inilah yang menjadi alasan kenapa ia memilih aku sebagai salah satu saksinya dari sekian banyak saksi yang sudah di datangkan sebelumnya, untuk memberikan keterangan bahwa, tuduhanya sebagai ibu yang kejam itu tidaklah benar.

Selama dua hari dalam penantian menuju kursi panas meja hijau, aku, tak henti hentinya memohon perlindungan dari Sang Maha Pelindung agar aku terbebas dari kemungkinan buruk yang akan terjadi, ini adalah kali pertama aku berurusan dengan pengadilan.

Senin siang sekitar pukul 13.30 ahirnya sampailah aku di depan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta, setelah sebelumnya aku menjalankan tugas dan  kewajibanku di Kampus untuk perkuliahanku hari itu. sesampainya aku di depan pintu gerbang gedung pengalidan segera aku tarik ponselku dari persembunyianya. ” haloo….bu saya sudah di depan gedung pengadilan, ibu dimana ?” tanyaku dengan suara lelah setelah menempuh hampir satu jam perjalan. ” Pak saiful kita ketemuan di cafe dulu ajah sebelum sidang, nanti kamu ketemu dengan lowyer ku dulu untuk pengarahan”  jawab ibu. tak lama akupun sampai di cafe yang ibu maksud. hufff…wau fantastis mewah betuL ni cafe, banyak cewek cewek turis,,wah pasti makananya wenak -  wenak ni.  itulah kesan pertamaku ketika ku dudukan tubuhku di kursi mewah yang empuk, akupun tak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk memesan berbagai menu yang di tawarkan,,hmmmm segelas Ice lemon tea yang segeeerr,,dan seporsi spaghetti bolognaise I think its really nice.  Sambil menenuggu hidangan itu siap, aku,iburizna,sang lowyer,dan satu orang saksi dari psikolog langganan ibu  segera mendiskusikan strategi pemenangan kasus itu. setelah hampir 30 menit perbincangan, makanan yang kami pesanpun datang,, hmmmm nyummiiii wah wenak tenanan kelihatanya, akupun tak sabar untuk egera menyantapnya,,tiba – tiba saja ada sesuatu yang aneh saat aku sedang asyik menikmati spaghetti bolognaise yang aku pesan, aku merasakan sesuatu yang aneh ada dalam mulutku dan terjadi perdebatan di hatiku ” hmmm daging kok alot banget, di kunyah gak ancur ancur, daging apa yah, jangan – jangan…ah insyaAllah halal” semakin lama mulutku semakin merasakan keanehan, tersa pait, hmmm apa gerangan sebenarnya,,setelah ku amatai dengan lidahku, aku langsung terkaget dan berhenti mengunyah,,wah wah wah jangan – jangan ini karet gelang, abis pait banget udah gitu lama lama makin pait aja ni mulut, dengan perlahan tanganku menarik selembar tisyu dan aku pura – pura membersihkan mulutku, padahal sambil menyelam minum air – sambil membersihkan mulut mengeluarkan karet dari mulutku, dan ku bungkus rapi dengan tisyu itu. ternyata betuL dugaanku,  makhluk itu adalah karet gelang pantas saja alot dan pait.  “huufff cafe semegah ini kok penyajianya masi ada yang kayak gini” kerutku…, rasa pait itupun segera ku obati dengan sisa Ice lemon Tea yang sudah ku minum lebih awal.

setelah acara perjamuan selesai, kami berempatpun segera menyambangi salah satu Ruang Pengadilan Negeri Jakarta. aku terheran – heran melihat suasana pengadilan yang sarat dengan pergulatan antara yang salah dan benar, antara yang di fitnah dan memfitnah, antara yang baik dan yang buruk, hampir dua jam kami menunggu giliran untuk masuk ruang sidang. Langkahku menapaki ruang pengadilan di sambut oleh Pak Hakim ketua yang badanya tinggi gede, item,kumis tebel, dan agak botak sempat  membuat aku cemas, dudududududududu pertanyaan apa yang akan muncul dari mulutnya, ahirnya kesempatanku untuk memberikan kesaksian datang juga. banyak pertanyaan – pertanyaan yang sedikit agak lupa waktu dan tanggal ketika aku di tanya pak hakim seputar pengajaranku kepada anak bungsu bu Rizna, wah benar – benar menegangkan, tapi di ahir persidangan ada satu pertanyaan yang aneh muncul dari mulut Pak Hakim ketua yang menurutku tidak ada hubunganya dengan kasus yang sedang di persidangkan ” mas saiful sudah nikah ? ” tanya Pak Hakim sambil cengar cengir, ” aku belum nikah pak” jawabku, sontak pertanyaan dan jawaban itu membuat Pak Hakim dan dua pembantunya tertawa geli. ” apa maksudnya yah ” tanyaku dalam hati. ah pak hakim iseng ajah ni pertanyaanya aneh. tapi sudahlah paling tidak pertanyaan itu bisa melepas susana panas dan tegang. Terimakasih Pak Hakim hehehe. – SIDANG BERLANJUT – tok tok tok ( tegas Pak Hakim Ketua )


Terobsesi Mega Film KCB

June 15, 2009

Terjawab sudah, akhirnya keinginanku untuk berminggu malam dengan sahabat tercinta, menghabiskan waktu libur untuk sekedar shoping di mall, hunting new books, dan berburu tiket KCB ,mengingat sangat susahnya untuk mendapatkan bangku kosong di minggu pertama penayangan film tersebut, aku harus datang 5 jam lebih awal sebelum film di putar untuk membeli 1 lembar tiket masuk plus 3 tiket untuk sahabat – sahabatku, ahirnya perburuanku mendapatkan bangku kosong film KCB pun berbuah manis, kami duduk di tengah – tengah gedung 21 yang cukup dingin, ada yang lain ketika mataku mulai menatap layar bergambar pemandangan yang sungguh teramat indah,,subhanallah…kampus Al – Azhar, hampir saja mataku mentikan air mata, aku teringat akan cita citaku  untuk menuntut ilmu di negeri orang di kampus AL AZHAR KAIRO MESIR, aku sempat terharu dengan nasibku yang sampai saat aku menulis tulisan ini masih tak kunjung jua menimba ilmu di sana, aku merasakan pilu, betapa tidak, padahal setelah aku lulus dari MAK niatku untuk melanjutkan study di azhar kairo hampir saja tercapai, saat itu satu hari sebelum aku pergi ke pekalongan untuk persiapan visaku ke Mesir terhenti karna ada satu hal yang sampai saat inipun  aku dan keluargaku belum bisa menemukan jawaban teka teki itu, aku hanya bisa mengelus dada dan menarik nafas seraya berkata ” aku yang sekarang insyaAllah adalah aku yang terbaik menurut MU ya Rabb, sekalipun aku tidak sempat ke al azhar mudah mudahan anak cucuku kelak bisa study disana”


Hadiah Untuk Yang Terkasih

June 13, 2009


contohkado1Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat (tidak harus menunggu hari Anniversary), dan tak perlu membeli!
Meski begitu, delapan macam kado ini dapat menjadi hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang anda sayangi

1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat surat, telepon, foto, email atau faks.
Namun dengan berada di sampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan.
Berikan kado ini untuk orang yang anda kasihi. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini juga memudahkan anda untuk bisa memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. D I A M
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, “Kau bebas berbuat semaumu?” Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan?

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika anda mengkadokannya tiap hari! Selain keindahan penampilan pribadi, anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi anda. Ingat-ingat pula, pernahkah anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf), adalah kado cinta yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi cekcok yang hebat. Semestinya anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikurbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila anda memikirkan hal ini, berarti anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah”. Okelah, anda suatu saat mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut? Kesediaan untuk mengalah sudah dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus-asaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita.
Kapan terakhir kali kita menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi.


Membangun Istana di Surga

June 6, 2009

Sewaktu saya menunggu chikatetsu (kereta bawah tanah) menuju pulang, saya melihat ada seorang muslimah. Ya, muslimah. Saya jarang bisa melihat atau bertemu muslimah di Negeri Matahari Terbit ini. Dari perawakannya, sepertinya dia dari bangsa Arab. Dia menoleh ke arah saya yang berada di barisan depan dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu. Dia mengucapkan, “Assalamu’alaikum!” Saya spontan menjawab dengan suara pelan, “Wa’alaikumsalam” dan kusambung dalam hati, “Warahmatullahi wabarakatuh.”

Sungguh hati ini bagaikan gurun sahara mendapat curahan hujan. Demikian damai dan bahagia sekali. Tidak setiap hari saya mendapatkan salam langsung seperti itu. Biasanya saya hanya mendapat salam lewat email atau telepon. Atau bila saya bertemu sahabat-sahabat saya sesama muslim Indonesia, maka salam pun bertebaran demikian indahnya.

Tentu saja, salam formal khas Jepang tiap hari saya dapatkan. Ohayou gozaimasu, konnichiwa ataupun konbanwa (selamat pagi, selamat siang ataupun selamat malam), sudah biasa terdengar. Tetapi itu berbeda dengan salam dalam Islam.

Pada pertemuan pengajian pun, teman yang datang belakangan akan mengucapkan salam kepada yang telah lebih dulu datang. Tidaklah elok bila yang datang belakangan, tetapi menyalami teman akrabnya yang duduk agak jauh. Sedangkan dia akan melewati teman lain yang duduk dekat pintu masuk. Seperti sabda Rasulullah, salam bukan saja diucapkan kepada orang yang dikenal tetapi juga kepada yang belum dikenal.

***

Bagaimana dengan salam yang ditulis singkat atau diucapkan sambil lalu? Saya pernah membaca email yang salam penutupnya hanya ditulis “Wass.” Entahlah apakah saya saja yang merasa nelangsa dan merasa diacuhkan dengan salam seperti itu. Seakan ditinggal pergi buru-buru oleh si pemberi salam. Benarkah dia memberi salam ataukah empat huruf itu hanyalah suara yang mirip salam? Tidakkah terpikir untuk menambah empat huruf lagi hingga salam penutup itu mempunyai makna?

Pernah pula, belum selesai saya menamatkan salam penutup yang pendek pun, si penelepon sudah menutup telepon. Begitu pula sebaliknya, telepon diputus tanpa jawaban salam saya dengar dari seberang.

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”
(QS An-Nisaa’: 86)

Bukankah salam itu doa? Doa yang diucapkan untuk saudaranya seakidah, “Semoga Allah memberi keselamatan padamu.” Walaupun memberi salam itu sunnah. Tetapi tahukah kita bahwa yang mengucapkan salam lebih dulu itu lebih dicintai Allah? Siapa yang tidak mau dicintai Allah? Semua makhluk berlomba mendapatkan cinta Allah. Kebalikannya, menjawab salam itu wajib. Salam dalam Islam merupakan doa. Selain itu salam juga merupakan sedekah.

***

Pernah sahabat Rasulullah, Umar bin Khatab mengadukan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah. “Ya, Rasulullah, Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai mengucapkan salam kepadaku…” Rasulullah lalu menanyakan hal itu kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib membenarkan pengaduan Umar bin Khatab itu. “Ya, Rasulullah, itu kulakukan karena aku ingin supaya Umar bisa mendapatkan istana di Surga! Seperti yang disabdakan olehmu, ya Rasulullah. Bahwa siapa yang mendahului saudaranya mengucapkan salam, Allah akan mendirikan istana baginya di Surga.”

Bayangkan dengan memberi salam kita bisa membangun istana di Surga. Dengan salam, hati-hati kita terikat untuk saling mencintai. Kenapa kita tidak bersegera menebar salam kepada sahabat, handai taulan, keluarga dan saudara-saudara kita seiman? Sabda Rasulullah, “Tidaklah kalian masuk surga hingga kalian beriman. Dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim)

Tulisan ini di ambil dari kisah seorang temanbergaul1


Berhati-hatilah Kepada Siapa Anda Bercerita

June 4, 2009

Posted by : saif_una

Dalam beberapa hari ini Deni-bukan nama sebenarnya- terlihat murung. Wajahnya tidak secerah biasa. Ia lebih banyak diam dan sering menyendiri di kamar. Bahkan terkadang dalam diamnya itu Deni sering meneteskan air mata. Sepertinya ada beban berat yang dipikul hatinya. Ada masalah yang mengganggu pikirannya. Tapi Deni tidak bercerita pada yang lain. Ia lebih memilih berdiam diri.

Esoknya adalah hari pernikahan Ust. Harun-bukan nama sebenarnya-. Salah seorang senior yang sering membantu Deni. Beliau adalah orang terdekat dengan Deni. Tempat Deni bercerita dan menumpahkan segala keluhan jiwanya selama ini. Ust. Harun dikenal sangat baik, perhatian dan suka membantu.

Saat ini beliau sedang menempuh jenjang S2, di Fak. Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo. Teman-teman yang satu rumah dengan Deni menjadi heran, karena sikap Deni yang berbeda dari sebelumnya, apakah karena ia belum dapat kiriman ataukah ada masalah lainnya. Beberapa orang sudah mencoba bertanya pada Deni tentang permasalahan yang sedang ia hadapi. Tapi Deni selalu menolak untuk bercerita.

Keesokan harinya, acara aqad nikah Ust. Harun dilangsungkan di Wisma Nusantara dan sekaligus walimahan. Banyak tamu yang memadati ruangan. Bagaimana tidak, Ust. Harun adalah seorang aktivis di Kairo. Ia punya banyak teman dan kenalan. Namun Deni tidak terlihat batang hidungnya. Ust. Harun juga sempat bertanya tentang Deni, tapi teman-teman yang satu rumah dengan Deni mengatakan bahwa mereka tidak mengetahuinya. “Tadi ia sudah siap-siap dan lebih dahulu keluar dari kami. Kami kira ia datang ketempat ini,” ungkap salah seorang teman yang serumah dengan Deni.

Hari pun sudah larut malam, jam hampir menunjukkan pukul 12. Tapi Deni belum juga pulang. Teman-teman yang se rumah dengan Deni jadi cemas. Hp Deni sudah berkali-kali dihubungi tapi tidak ada jawaban. Sekitar jam 2 malam Deni pulang ke rumah. Teman yang sekamar dengan Deni, Rasyid-bukan nama sebenarnya-belum tidur.

Sesampai di rumah, Deni masih terlihat murung dan banyak diam. Rasyid mencoba mendekat dan bertanya lembut, “Deni, apa yang bisa saya Bantu?”

“Tidak ada, makasih.”

“Tadi sore Antum kemana? Kok nggak kelihatan di acara walimahannya Ust. Harun?”

“Tadi sore saya ke mesjid Al-Azhar, mencari ketenangan.”

“Sebenarnya apa permasalahan yang mengganggui pikiran Deni, kalau boleh saya tahu?”

Deni terdiam sejenak, ia menarik nafas dan menundukkan pandangan matanya. Air matanya kembali berderai.

“Deni, apa sebenarnya yang terjadi?” Rasyid kembali bertanya sembari merangkul tangannya.

“Sebenarnya saya tidak mau bercerita pada siapapun. Ini permasalahan yang sangat pribadi. Tapi, mudah-mudahan dengan bercerita pada Akhi, hati saya lebih tenang, beban akan terasa ringan dan mungkin akhi nanti bisa memberi saya saran, nasehat dan menghibur hati saya.”

“Insya Allah, semampu saya”, kata Rasyid.

“Akhi, sejak dulu, ketika masih di pesantren hati saya telah tertaut pada seorang wanita, saya sangat menyukainya. Saya menyukainya karena agama dan kebaikan budi pekertinya. Sayapun mengenal baik orang tuanya. Perasaan itu tidak berhenti dan terus berlanjut sampai saya tiba di Mesir.

Besar harapan di hati saya wanita tersebut juga ikut ke Mesir. Sehingga di sini saya ingin memulai hubungan ini dan mengajaknya untuk menikah. Saya datang lebih awal ke Mesir sedang ia datang kemudian. Ia datang dengan beasiswa Depag. Sedangkan saya berangkat dengan biaya pribadi. Selama disini saya tetap menjaga hubungan baik dengannya. Dalam batas- batas yang tidak keluar dari syar`i.

Saya ingin melangkah untuk melamarnya. Namun saya merasa kurang pede, saya perlu ada yang mendorong , memberi semangat dan kekuatan. Saya butuh tempat curhat dan berbagi. Alhamdulillah saya menemukan orangnya, yaitu Ust. Harun. Berulang kali saya datang pada beliau dan menceritakan keinginan saya untuk menikah. Saya juga bercerita tentang wanita yang ingin saya lamar, tentang keluarganya, prestasinya, agamanya dan budi pekertinya. Tidak ada yang saya tutupi dan sembunyikan, saya lihatkan foto wanita itu , data dirinya dan data keluarganya.

Namun apa yang terjadi? Tanpa saya ketahui, Ust. Harun segera mencari tahu tentang wanita tersebut. Sehingga sampailah beliau menelpon keluarganya. Dan beliau mengutarakan lamarannya pada keluarga wanita tersebut. Pihak keluarga wanita mencoba menanyakan pada si wanita dan akhirnya ia menyetujuinya.

Itulah yang membuat saya sangat bersedih dengan sikap Ust. Harun, kenapa beliau tega melakukan hal itu pada saya. Selama ini Saya sangat percaya pada beliau. Tapi rupanya beliau juga tertarik dengan wanita pilihan saya tersebut. Akhirnya saya tidak jadi untuk melangkah karena didahului oleh Ust. Harun.

Apa yang bisa saya lakukan sekarang, tidak ada. Hati saya serasa hancur. Harapan saya seakan telah pudar. Saya agak shock dengan kejadian ini. Berat bagi saya untuk mengikhlaskan pernikahan ini. Berat bagi saya untuk mengatakan pada kedua mempelai ” Barakallahu lakuma …..” . Kaki saya sangat berat untuk melangkah menghadiri pernikahannya Ust. Harun. Saya tidak sanggup menyaksikan aqad nikah dan walimahan tersebut. Sampai saat ini hati saya masih sedih, saya tidak tahu harus kemana mengadu dan bercerita. Saya berharap akhi bisa membantu saya.”

Ia kembali menangis, ia tak sanggup menahan tumpahan air matanya, Rasyidpun tanpa sadar meneteskan air matanya, ia ikut terharu dengan cerita Deni. Rasyid tidak menduga, Ust. Harun yang selama ini dikenal baik melakukan hal itu.

“Deni, sabar ya, segala sesuatunya telah ditentukan Allah. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi Deni. Bisa jadi apa yang Deni pandang baik menurut Deni, belum tentu baik dalam pandangan Allah dan begitu sebaliknya. Deni tidak usah terlalu berlarut dalam kesedihan. Setiap orang telah Allah tentukan jodohnya masing-masing. Saya yakin Allah telah menyiapkan yang terbaik untuk Deni.

Tidak ada gunanya menangisi apa yang telah terjadi. Semua itu tidak akan mengubah apa-apa. Mintalah pada Allah agar diberikan ganti yang lebih baik. “

Mendengar kata-kata Rasyid, Deni pun mulai mengembang senyum, sambil mengusap air matanya ia berkata , ” Kata-kata akhi sungguh sangat berarti bagi saya, begitu menyejukkan hati saya dan menggugah jiwa saya. Betul apa yang akhi katakan belum tentu apa yang baik menurut saya baik menurut Allah. Insya Allah saya tidak akan bersedih lagi, saya akan pasrah pada Allah, saya akan terus berdo`a pada Allah untuk memberikan yang terbaik pada saya, insya Allah saya akan bersabar, terima kasih atas nasehat akhi.”

“Dah, sekarang Deni berwuduk , shalat dua raka`at dan kemudian baca Al-qur’an , insya Allah hati Deni akan tenang kembali.”

“Iya akhi, sekali lagi jazakumullahu khairan.”

Esoknya Deni kembali seperti biasa, ceria dan bersemangat. Seolah-olah tidak ada yang terjadi pada dirinya. Ya, karena semalaman ia telah bersujud panjang di hadapan Allah, menumpahkan dan mengadukan segala resah hati pada Allah yang maha mengetahui segala isi hati dan segala sesuatu.

NB: Kisah di atas dari seorang teman. Nama tokoh dan tempat hanyalah rekayasa belaka, untuk menjaga agar tidak menyudutkan pihak tertentu. Kalau ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan saja. Moga kisah nyata di atas menggugah hati kita dan memberi kita pelajaran yang sangat berharga.

Salam dari Kairo,
marif_assalman@yahoo.com
[Anggota FLP Mesir]

Sumber : http://eramuslim.com/